Cari Blog Ini

Minggu, 15 April 2012


Kota biru yang penuh misteri

Bagikan artikel ini :
Di India, terdapat kota yang seluruh rumahnya bercat biru. Kota tersebut adalah Jodhpur, kota terbesar kedua di negara bagian Rajasthan, India. Terletak 335 kilometer (208 mil) barat dari ibukota negara bagian, Jaipur.


Kota ini menjadi destinasi wisata yang cukup populer, selain keunikan warna biru yang menyelimuti seluruh permukiman, Jodhpur juga memiliki situs berupa istana dan kuil-kuil. Kota ini juga dikelilingi oleh tembok batu tebal.

Berkunjung ke tempat ini tidak perlu harus tergantung dengan musim, karena cuacanya selalu cerah sepanjang tahun. Oleh sebab itu, Jodhpur dikenal juga sebagai "Sun City". Meskipun julukan yang lebih terkenal disebut sebagai "Kota Biru".


Yang menarik, alasan penduduk mengecat rumah mereka menjadi biru masih menjadi misteri. Bisa jadi, bila kita bertanya mengapa mereka mengecat rumahnya dengan warna biru, mereka menjawab karena warna biru akan membuat rumah mereka menjadi dingin dan bebas dari nyamuk.

Namun demikian, beberapa sumber menyebut alasan-alasan berikut ini:

1. Warna biru dipilih mengikuti orang-orang berkasta Brahmana yang selalu mengecat rumah mereka dengan warna biru, karena dewa-dewa biasanya selalu berwarna biru (pernah lihat film soal Dewa Krishna kecil?)

2. Warna biru untuk mengusir nyamuk

3. Menurut pendapat penduduk Jodhpur, warna biru bisa mendinginkan suasana rumah.


Guna menikmati keindahan lanskap Jodhpur, bisa dilihat dari Benteng Meherangarh. Benteng dengan tembok setinggi 35 meter ini memiliki jendela-jendela batu untuk melihat pemandangan di luar. Dari tempat inilah kita bisa mengagumi jajaran rumah biru yang sampai kini masih diselimuti misteri.

Minggu, 08 April 2012


Sejarah Kampung Kuta Ciamis

Kampung yang terletak di Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari, berbatasan dengan Jawa Tengah itu dikenal sebagai Kampung adat. Ada beberapa versi mengenai sejarah Kampung Kuta ini.

Menurut cerita rakyat setempat, asal-usul Kampung Kuta berkaitan dengan berdirinya Kerajaan Galuh. Konon, pada zaman dahulu ketika Prabu Galuh yang bernama Ajar Sukaresi (dalam sumber lain, tokoh ini adalah seorang pandita sakti) hendak mendirikan Kerajaan Galuh, Kampung Kuta dipilih untuk pusat kerajaan karena letaknya strategis.


Prabu Galuh memerintahkan kepada semua rakyatnya untuk mengumpulkan semua keperluan pembangunan keraton seperti kapur bahan bangunan, semen merah dari tanah yang dibakar, pandai besi, dan tukang penyepuh perabot atau benda pusaka. Keraton pun akhirnya selesai dibuat. Namun, pada suatu ketika, Prabu Galuh menemukan lembah yang (Kuta) oleh tebing yang dalamnya sekitar 75 m di lokasi pembangunan pusat kerajaan itu. Atas musyawarah dengan para punggawa kerajaan lainnya, diputuskanlah bahwa daerah tersebut tidak cocok untuk dijadikan pusat kerajaan (menurut orang tua, "tidak memenuhi Patang Ewu Domas").

Selanjutnya, mereka berkelana mencari tempat lain yang memenuhi syarat. Prabu Galuh membawa sekepal tanah dari bekas keratonnya di Kuta sebagai kenang-kenangan. Setelah melakukan perjalanan beberapa hari, Prabu Galuh dan rombongannya sampai di suatu tempat yang tinggi, lalu melihat-lihat ke sekeliling tempat itu untuk meneliti apakah ada tempat yang cocok untuk membangun kerajaannya. Tempat ia melihat-lihat itu sekarang bernama "Tenjolaya".

Prabu Galuh melihat ke arah barat, lalu terlihatlah ada daerah luas terhampar berupa hutan rimba yang menghijau. Ia kemudian melemparkan sekepal tanah yang dibawanya dari Kuta ke arah barat dan jatuh di suatu tempat yang sekarang bernama "Kepel". Tanah yang dilemparkan tadi sekarang menjadi sebidang sawah yang datar dan tanahnya berwarna hitam seperti dengan tanah di Kuta, sedangkan tanah di sekitarnya berwarna merah. Prabu Galuh melanjutkan perjalanannya sampai di suatu pedataran yang subur di tepi Sungai Cimuntur dan Sungai Citanduy, lalu mendirikan kerajaan di sana .

Cerita selanjutnya tentang Prabu Galuh tersebut hampir mirip dengan cerita Ciung Wanara dalam naskah Wawacan Sajarah Galuh, bahwa Prabu Galuh kemudian digantikan oleh patihnya, Aria Kebondan (dalam naskah disebut Ki Bondan). Prabu Galuh menjadi pertapa di Gunung Padang. Menurut versi tradisi lisan, Prabu Galuh meninggalkan dua orang istri, yaitu Dewi Naganingrum dan Dewi Pangrenyep. Saat itu, Dewi Naganingrum sedang mengandung. Ketika Dewi Naganingrum melahirkan, Dewi Pangrenyep menukar bayinya dengan seekor anak anjing. Bayi itu kemudian dihanyutkan ke Sungai Citanduy.

Melihat Dewi Naganingrum beranak seekor anjing, Aria Kebondan yang menjadi raja di Galuh menjadi marah, lalu menyuruh Lengser membunuhnya. Namun, Lengser itu tidak membunuh Dewi Naganingrum, tetapi menyembunyikannya di Kuta. Adapun bayi yang dibuang ke Sungai Citanduy itu kemudian ditemukan oleh Aki Bagalantrang di depan badodon (tempat menangkap ikan)-nya. Bayi itu dipungut dan diasuh oleh Aki Bagalantrang hingga remaja, lalu diberi nama Ciung Wanara.

Tempat Aki Bagalantrang mengasuh bayi itu sekarang disebut daerah "Geger Sunten", sekitar 6 km dari Kuta. Ciung Wanara kemudian merebut kembali Kerajaan Galuh dari Aria Kebondan melalui sabung ayam, sebagaimana yang diceritakan dalam naskah. Setelah Ciung Wanara menjadi raja, Lengser pun menjemput Dewi Naganingrum sehingga bisa berkumpul kembali dengan anaknya.

Di Kampung Kuta terdapat mitos tentang Tuan Batasela dan Aki Bumi. Diceritakan bahwa bekas kampung Galuh yang telah diterlantarkan selama beberapa lama ternyata menarik perhatian Raja Cirebon dan Raja Solo. Selanjutnya, masing-masing raja tersebut mengirimkan utusannya untuk menyelidiki keadaan di Kampung Kuta. Raja Cirebon mengutus Aki Bumi, adapun Raja Solo mengutus Tuan Batasela.

Raja Cirebon berpesan kepada utusannya bahwa ia harus pergi ke Kuta, tetapi jika didahului oleh utusan dari Solo, ia tidak boleh memaksa jadi penjaga Kuta. Ia harus mengundurkan diri, tetapi tidak boleh pulang ke Cirebon dan harus terus berdiam di sekitar daerah itu sampai mati. Pesan yang sama juga didapat oleh utusan dari Solo. Pergilah kedua utusan tersebut dari kerajaannya masing-masing.

Utusan dari Solo, Tuan Batasela, berjalan melalui Sungai Cijolang sampai di suatu kampung, lalu beristirahat di sana selama satu malam. Jalan yang dilaluinya itu hingga saat ini masih sering dilalui orang untuk menyeberang dari Jawa Tengah ke Jawa Barat. Penyeberangan itu diberi nama "Pongpet". Adapun Aki Bumi dari Cirebon langsung menuju ke Kampung Kuta dengan melalui jalan curam, yang sampai saat ini masih ada dan diberi nama "Regol", sehingga tiba lebih dulu di Kampung Kuta.

Sesampainya di sana, Aki Bumi menemui para tetua kampung dan melakukan penertiban- penertiban, seperti membuat jalan ke hutan dan membuat tempat peristirahatan di pinggir situ yang disebut "Pamarakan". Karena telah didahului oleh utusan dari Cirebon, Tuan Batasela kemudian terus bermukim di kampung tempat ia bermalam, yang terletak di utara Kampung Kuta.

Konon, utusan dari Solo itu kekurangan makanan, lalu meminta-minta kepada masyarakat di Kampung itu, tetapi tidak ada yang mau memberi. Keluarlah umpatan dan sumpah dari Tuan Batasela yang mengatakan bahwa "Di kemudian hari, tidak akan ada orang yang kaya di Kampung itu." Ternyata, hingga saat ini rakyat di kampung itu memang tidak ada yang kaya. Karena menderita terus, Tuan Batasela kemudian bunuh diri dengan keris.

Darah yang keluar dari luka Tuan Batasela berwarna putih, lalu mengalir membentuk parit yang kemudian disebut "Cibodas". Kampung itu pun diberi nama Kampung Cibodas. Tuan Batasela dimakamkan di tengah- tengah persawahan di sebelah utara Kampung Cibodas. Makamnya masih ada hingga saat ini. Aki Bumi terus menjadi penjaga (kuncen) Kampung Kuta sampai meninggal, lalu dimakamkan bersama keluarganya di tengah-tengah Kampung, yang sekarang termasuk Kampung Margamulya. Tempat makam itu disebut "Pemakaman Aki Bumi". Setelah keturunan Aki Bumi tidak ada lagi, Raja Cirebon memerintahkan bahwa yang menjadi kuncen di Kampung Kuta berikutnya adalah orang-orang yang dipercayai oleh Aki Bumi, yaitu para leluhur kuncen Kampung Kuta saat ini.

Mitos-mitos yang dituturkan oleh tradisi lisan terkadang mempunyai keterkaitan dengan mitos yang diceritakan dalam sumber naskah. Keterkaitan itu kemudian menimbulkan pertanyaan bagi kita, apakah si penutur mitos yang bersumber pada naskah atau naskah yang ditulis berdasarkan penuturan. Jika dirujuk pada usianya, maka tradisi lisan telah ada sebelum tulisan muncul sehingga dapat diasumsikan bahwa naskah ditulis berdasarkan cerita yang dituturkan.

Tradisi lisan yang terus ada hingga saat ini, seperti yang dituturkan oleh para kuncen atau tukang cerita, terdapat dua kemungkinan mengenai asal-usulnya. Pertama, tradisi lisan itu berdasarkan cerita naskah yang dibaca kemudian dituturkan kembali. Kedua, tradisi lisan itu memang belum pernah dituliskan dalam bentuk naskah, lalu dituturkan secara turun-temurun. Adanya perbedaan versi suatu cerita yang dituturkan dalam naskah dan tradisi lisan disebabkan oleh beberapa kemungkinan, yaitu perbedaan sumber cerita, distorsi cerita karena pewarisan cerita yang turun-temurun memungkinkan terjadinya penambahan ataupun pengurangan isi cerita, dan adanya keinginan dari penutur cerita untuk mengedepankan peranan seorang tokoh ataupun berapologia atas kesalahan tokoh tersebut.

Demikian pula dengan cerita tentang Kampung Kuta di atas. Ada beberapa bagian yang hampir mirip dengan cerita yang dikemukakan dalam naskah dan ada pula yang berbeda jalan ceritanya. Adapun mengenai kebenaran isi cerita atau mitos tersebut bukanlah suatu permasalahan. Setidaknya, mitos-mitos tersebut dihormati dan dipelihara oleh masyarakatnya. Lebih jauh, bukankah ilmu pengetahuan juga pada awalnya berkembang dari bentuk pemikiran mitis.

Hingga saat ini, Kampung Kuta tetap dilestarikan sebagai kampung adat atau petilasan. Masyarakatnya masih memelihara dan melestarikan tradisi-tradisi leluhur mereka. Pantangan-pantangan pun dibuat untuk menjaga kelestarian tradisi itu, seperti larangan membuat rumah dari tembok dan memakai atap genteng, larangan mengubur mayat orang dewasa kecuali bayi kecil dan dalamnya pun tidak melebihi pangkal paha, larangan menggali sumur terlalu dalam, larangan mementaskan wayang, larangan meminum minuman keras, tidak boleh sombong atau menentang adat kuta, dan sebagainya.

Dengan masih bertahannya Kampung Kuta sebagai Kampung Adat yang berada di Ciamis ini, sepatutnya harus kita banggakan, karena dengan adanya Kampung Kuta sebagai Kampung Adat yang masih bertahan menunjukkan bahwa masih ada pelestari kebudayaan yang masih eksis hinga saat ini. Mari kita lestarikan warisan kebudayaan leluhur...


Sumber: Blog Kang Mustafid

Ribuan Kelelawar di Situ Panjalu Menghilang

Selama berpuluh-puluh tahun, pepohonan Nusa Gede dimana di dalamnya ada makam keramat Prabu Sanghyang Boros Ngora yang terletak di tengah situ Panjalu, dihinggapi komunitas kelelawar atau kalong yang jumlahnya ribuan.

Komunitas kalong tersebut tidak pernah berpindah ke nusa lain di sekitar situ, atau pepohonan lain selain pohon yang ada di Nusa Gede. Tetapi sudah 17 hari ini, makam keramat Boros Ngora tak lagi dikelilingi kalong yang menggelayut di pohon Nusa Gede dan berkeleling terbang di atasnya. Mereka sudah pergi meninggalkan Situ Panjalu, entah pergi kemana.

Hilangnya komunitas kalong selama lebih dari dua minggu ini, menimbulkan banyak tanda tanya bagi warga setempat. Seperti yang diungkapkan Haris, warga Kampung Dukuh, Kec. Panjalu. Ia bersama warga di Panjalu merasa heran dengan kejadian tersebut yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Warga khawatir, perginya kalong dari Nusa Gede Panjalu menjelang tahun baru islam dan menjelang nyangku ini, menyimpan tanda-tanda atau isyarat akan terjadinya sesuatu. "Yang kami khawatirkan, ini menjadi pertanda buruk, karena baru pertama kali terjadi," katanya.

Bahkan menurutnya, bukan hanya kelelawar, burung pun tak terlihat singgah di Nusa Gede Panjalu ini. "Burung pun tak mau hinggap di situ. Semoga saja pertandanya pertanda baik, " kata Haris.

Dikatakan Haris, memang pernah terjadi dimana Nusa Gede ditinggal pergi komunitas kalong, tetapi hanya berlangsung satu hari. Tapi kali ini sudah tujuhbelas hari kalong kalong itu tak lagi kembali ke Nusa Gede.

Warga menyayangkan, kejadian ini tidak dijadikan perhatian serius pihak disbudpar Ciamis. Karena hingga saat ini, belum ada satupun dari instansi terkait yang melakukan kajian, kenapa Nusa Gede ditinggal pergi komunitas kalong.

"Apa karena gejala alam atau karena faktor lain. Ini harus dikaji agar tidak berkembang dugaan-dugaan lain yang bersifat mistis dan menyesatkan warga, " ujar Haris. K-27***

sumber: kabar-priangan.com



Situ Haurgeulis Butuh Sentuhan

Suasana yang sepi cukup menunjang situ Haurgeulis, di Desa Sukahurip, Kecamatan Cisaga dimanfaatkan untuk bobogohan. Pasangan muda-mudi sengaja datang untuk menikmati suasana sepi situ yang sempat ramai dikunjungi pengunjung. Setiap harinya tidak kurang dari 10 pasang muda mudi menyempatkan diri untuk berkunjung ke lokasi Situ yang luasnya lebih dari 5 hektar.

Dede (60) warga setempat mengakui pada hari Sabtu dan Minggu banyak pasangan muda mudi yang berkunjung ke Situ Haurgeulis. "Rame diten saptu sareng mingu mah seueur nu bobogohan," katanya belum lama ini.

Menurut Dede pada awal pembangunan situ tahun 2004 lalu, sempat ramai banyak dikunjungi warga. Bahkan di situ sengaja disimpan dua buah perahu dan saung-saung persinggahan. Namun jumlah pengunjung menurun setelah terjadi tragedi ada yang meninggal saat berenang.

"Aya kana 6 sasih mah rame na teh, tos eta mah ngalelep," katanya.

Penataan situ saat ini kembali dilakukan pihak Desa. hanya saja masih belum sempurna dan belum bisa menarik wisatawan untuk berkunjung. Baru jalan disekeliling situ yang di perbaiki. Selebihnya belum ada penataan.

Masih butuh sentuhan dari pemerintah agar lokasi Situ Haurgeulis menjadi lokasi wisata yang menarik.

"Harus didukung dengan infrastruktur yang memadai agar lebih menarik pengunjung. Namun pemerintah anggaranya terbatas," kata Kepala Desa Sukahurip, Aan Rosad.

Saat ini pemerintah desa mengembangkan situ haurgeulis untuk lokasi pemancingan. Rencananya pada bulan April mendatang ikan yang sudah ditanam bebera bulan lalu siap dipancing. (Latif/Antik/KP)***

Asal Usul Pananjung dan Pangandaran

Desa Pananjung Pangandaran pada awalnya dibuka dan ditempati oleh para nelayan dari Suku Sunda. Para pendatang lebih memilih daerah Pangandaran untuk menjadi tempat tinggal karena gelombang laut yang kecil membuat mereka mudah untuk mencari ikan. Pantai Pangandaran memiliki sebuah daratan yang menjorok ke laut dan sekarang menjadi cagar alam atau hutan lindung, dan tanjung inilah yang menghambat atau menghalangi gelombang besar untuk sampai ke pantai.

Para nelayan menjadikan pantai pangandaran sebagai tempat untuk menyimpan perahu yang dalam bahasa sundanya disebut andar. Beberapa waktu kemudian para pendatang banyak bersandar ke tempat ini dan menetap sehingga menjadi sebuah perkampungan yang disebut Pangandaran. Pangandaran berasal dari dua buah kata pangan dan daran, pangan berarti makanan dan daran maknanya pendatang. Pangandaran dapat diartikan sebagai sumber makanan para pendatang.

Sesepuh terdahulu memberi nama desa dengan kata 'Pananjung', karena di daerah itu terdapat tanjung dan banyak sekali terdapat daerah keramat di beberapa tempat. Pananjung berasal dari kata dalam bahasa Sunda 'pangnanjung-nanjungna' (paling subur atau paling makmur).

Pananjung pada mulanya merupakan salah satu pusat kerajaan, sejaman dengan kerajaan Galuh Pangauban yang berpusat di Putrapinggan sekitar abad XIV M, yaitu pada masa setelah munculnya kerajaan Pajajaran di Pakuan Bogor. Nama raja Kerajaan Pananjung adalah Prabu Anggalarang yang disebut dalam salah satu versi kisah sejarah sebagai keturunan Prabu Haur Kuning, raja pertama kerajaan Galuh Pangauban. Kerajaan Pananjung sayangnya hancur diserang oleh para Bajo (Bajak Laut) karena tidak bersedia menjual hasil bumi kepada mereka. Penolakan Kerajaan Pananjung ini disebabkan pada saat itu situasi rakyat sedang dalam keadaan paceklik (gagal panen).

Penjajah Belanda melalui Y. Everen (Residen Priangan) menjadikan Pananjung sebagai taman baru pada tahun 1922. Waktu itu terjadi penambahan 'penghuni' taman dengan dilepaskannya seekor banteng jantan, tiga ekor sapi betina dan beberapa ekor rusa.

Pananjung dijadikan suaka alam dan marga satwa pada tahun 1934, dengan luas 530 Ha. Penetapan ini berdasarkan alasan karena Panjanjung memiliki keanekaragaman satwa dan jenis–jenis tanaman langka, dan agar kelangsungan habitatnya dapat terjaga. Status Pananjung berubah menjadi cagar alam pada tahun 1961 setelah ditemukannya Bunga rafflesia padma.

Sebagian kawasan Pananjung seluas 37,70 Ha dijadikan Taman Wisata pada tahun 1978, seiring dengan meningkatnya hubungan masyarakat dengan tempat rekreasi. Kawasan perairan di sekitarnya pada tahun 1990 dikukuhkan pula sebagai cagar alam laut (470,0 Ha), sehingga luas kawasan pelestarian alam seluruhnya menjadi 1000,0 Ha.

Pengusahaan wisata TWA Pananjung Pangandaran pada perkembangan selanjutnya berdasarkan SK. Menteri Kehutanan No. 104/KPTS-II/1993 diserahkan dari Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam kepada Perum Perhutani dalam pengawasan Perum Perhutani Unit III Jawa Barat, Kesatuan Pemangkuan Hutan Ciamis, bagian Kemangkuan Hutan Pangandaran.

referensi: http://www.mypangandaran.com/profil/detail/1/sejarah-pangandaran.html

Gadis Cantik Ciamis Paling Fenomenal

Banyak gadis cantik di Ciamis, tak perlu diragukan lagi. Tapi siapakah gadis cantik dari Ciamis yang paling fenomenal dalam lintasan sejarah? Tak berlebihan jika akhirnya muncul satu nama yang dijadikan jawaban oleh berbagai pihak. Nama ini memang menjadi salah satu bintang Ciamis yang paling populer, tidak hanya di benak orang Ciamis, tetapi diakui juga oleh masyarakat Indonesia.

Nike Ardilla adalah artis dan penyanyi wanita berbakat yang teropuler di jamannya. Lima tahun berkiprah di industri musik, Nike berhasil mengeluarkan 13 album. Tak hanya itu, Nike pun telah membintangi 12 film layar lebar dan 9 judul sinetron.

Ia terlahir dengan nama Rd. Rara Nike Ratnadilla. Rd. Rara adalah sebuah julukan kebangsawanan untuk seorang putri keturunan ningrat di Jawa Barat, Nike sendiri masih keturunan Raja Galuh. Adapun nama Nike Ratnadilla, berasal dari Ni yang diambil dari suku kata nama depan ibunya (Ningsirat), dan Ke,diambil dari suku kata bagian depan nama ayahnya (Kusnadi, Ku dirubah jadi Ke). Rat, diambil dari Ningsirat, Nadi diambil dari Kusnadi, dan ditambahkan lla sehingga jadilah nama Nike Ratnadilla.

Di awal kariernya, Nike menggunakan nama Nike Astrina dan sempat mengeluarkan single album berjudul 'Gadis Foto Model', yang merupakan sountrack film yang berjudul sama. Tahun 1990-an, Nike atas permintaan produser, Nike merubah namanya menjadi Nike Ardilla yang diambil dari nama belakangnya dan dengan nama tersebut ia berhasil menaklukan dunia hiburan di Indonesia. Nike juga memiliki nama kecil, yaitu Keke, Neng atau Amoy. Keluarga besar Nike biasa memanggilnya dengan sebutan 'Neng' (nama kecil buat anak perempuan di daerah parahyangan)dan Nikemania biasa memanggilnya dengan sebutan 'Teteh' (panggilan hormat untuk seorang wanita, biasanya wanita yg lebih tua di daerah sunda).

Album pertamanya laku lebih dari 500.000 copies, menyusul album ke-2 nya yang mensejajarkan Nike ke dalam musisi papan atas terjual 2 juta copies dan mendapatkan BASF Award 1990 best selling album. Album terakhirnya laku lebih dari 3 juta copies di indonesia saja, total dengan di penjualan ASEAN 5 juta copies. Karir Nike di dunia musik mungkin singkat hanya 6 tahun, tapi telah menghasilkan 10 album yang sukses dengan rata-rata penjualan album lebih dari 1 juta copies. Jika dihitung dari 10 major album dan album the best yang di release sampai sekarang mungkin Nike sudah merelease lebih dari 40 buah album musik.

Sampai belasan tahun setelah kematian Nike Ardilla orang-orang masih mengenang Nike Ardilla dan namanya pun masih melegenda. Tabloid Nova tahun 2007 dalam edisi yang ke-1000 eksemplar mengklaim bahwa Tabloid Nova edisi Nike Ardilla bulan maret 1995 sebagai Tabloid Nova terlaris sepanjang Nova beredar. Tahun 1986-2007 terjual lebih dari 850.000 eksemplar. Infotainment silet di edisi ke-100 menempatkan edisi Nike Ardilla sebagai rating tertinggi ke-2 silet setelah edisi perseteruan Rhoma Irama dan Inul Daratista.

Dominasi Nike Ardilla di tahun 1990-an tak terkalahkan. Film laris alias box office banyak di bintangi olehnya, sinetron dengan rating tinggi banyak menampilkannya di stasiun TV swasta waktu itu, dan dunia model pun di gelutinya. Nike menjadi gadis sampul 1990 adalah bukti nyata prestasinya. Festival tarik suara pun dijajal hingga meraih juara 1 lomba menyanyi se-asia pasific di shanghai china tahun 1991. Ia juga menjadi bintang iklan untuk berbagai produk. Tak pelak, jika di tanya siapa penyanyi dan artis yang paling popular di tahun 90-an, jawabannya Nike Ardilla.

Catatan media menunjukkan bahwa popularitas Nike tetap menjadi sorotan. Seorang kandidat gubernur, Agum Gumelar, sempat menjadikan rumah Nike Ardilla sebagai markas pemenangannya. Okezone.com melaporkan Jumat (8/2/2008), Agum bersama sejumlah tim suksesnya mendatangi rumah Nike Ardilla di Jalan Imbanagara 389, Ciamis, Jawa Barat. Saat tiba di tempat itu, Agum disambut ibu almarhumah, Nining Sihratu. Nampaknya Agum Gumelar yakin almarhumah penyanyi Nike Ardilla masih memiliki kharisma bagi penggemarnya. Karenanya, dia memakai rumah mendiang sebagai posko relawan Ciamis untuk pencalonan dirinya dalam Pilgub Jabar.

Nama mendiang Nike memang sedemikian fenomenal. Ia menjadi gadis cantik berdarah Ciamis yang paling terkenal. Sudahkah ada penggantinya kini? Bunga-bunga baru Tatar Galuh pasti sudah, sedang dan akan terus bermunculan dengan prestasi masing-masing. Semoga...

referensi:
1. http://id.wikipedia.org/wiki/Nike_Ardilla
2. http://www.lautanindonesia.com/forum/index.php?topic=5949.0
3. http://museumnikeardilla.blogspot.com

Kisah Asal Muasal Curug Tujuh Cibolang Ciamis

Kecintaan seorang pemimpin pada rakyatnya, dan kesedihan yang timbul melihat penderitaan mereka, dapat membawa jawaban dan kebahagiaan pada akhirnya. Itulah mungkin pesan moral dari kisah sasakala Curug Tujuh Cibolang Ciamis. Konon terbentuknya curug tujuh menurut keterangan berasal dari kisah jaman dahulu kala, manakala terdapat seorang penguasa atau raja di wilayah tersebut, yang pada suatu waktu merasa sangat prihatin melihat keadaan di wilayahnya yang sangat menderita akibat kemarau panjang. Air tidak ada dan tanah kering kerontang sehingga rakyatnya dirundung malang berkepanjangan.

Sang raja kemudian bertapa untuk memohon supaya diturunkan hujan agar keadaan negerinya pulih seperti sediakala. Namun usahanya itu tidak mendapatkan jawaban dari penguasa alam. Hal tersebut menyebabkan hatinya sangat sedih dan kesedihannya itu membuatnya menangis. Saat itu keajaiban terjadi, air mata raja perlahan berubah menjadi genangan air jernih dan semakin membesar sehingga membentuk aliran air yang akhirnya terpecah dan jatuh di tujuh buah tebing.


Panorama alam yang indah dan suasana hutan alam menjadi daya tarik wana wisata Curug Tujuh, dimana objek wisata ini berada di kiri kanan bukit gunung Ciparang dan Cibolang yang merupakan bagian dari Gunung Sawal.


Luas Wana Wisata Curug Tujuh 20 Ha terletak di kawasan hutan RPH Panjalu BKPH Ciamis KPH Ciamis yang menurut administrasi pemerintah termasuk Desa Sanding Taman Kecamatan Panjalu Kabupaten Ciamis.

Objek wisata ini terletak pada ketinggian sekitar 800-900 di atas permukaan laut dengan konfigurasi lapangan bergunung, suhu udara secara umum sekitar 17-18 derajat Celcius.


Sesuai namanya Curug Tujuh terdiri dari tujuh buah air terjun yang lokasinya berjejer dengan Curug Satu, Curug Dua, Curug Tiga, Curug Cibolang, Curug Simantaja, Curug Cileutik, dan Curug Cibuluh. Konon diantara curug tersebut mengalirkan air yang berkhasiat menyembuhkan penyakit seperti penyakit kulit, encok, rematik dan pegal linu. Dan airnya tidak pernah surut sekalipun musim kemarau, dimana air yang mengalir berasal dari gunung Sawal.